ACP vs GRC — Perbedaan dan Kegunaannya

Daftar isi

Bulan lalu saya ketemu owner gedung perkantoran 8 lantai di Malang yang mau renovasi fasad. Dia tanya: “Rio, saya dapat penawaran ACP Rp 350 ribu per meter, tapi ada juga yang nawarin GRC Rp 800 ribu. Kok bisa beda jauh? Emang beda apa sih? Yang mana lebih bagus?” Pertanyaan seperti ini sangat sering muncul, dan saya paham kenapa—dari luar, kedua material ini sama-sama bisa bikin gedung tampak bagus. Tapi kalau kita bicara detail teknis, karakteristiknya sangat berbeda.

Salah pilih material bisa berakibat pada biaya perawatan yang membengkak, atau bahkan—yang lebih serius—masalah keselamatan gedung. Apalagi di Indonesia sudah ada beberapa kasus kebakaran gedung yang dipicu oleh material fasad yang tidak sesuai standar keamanan.

Sebenarnya saya lebih sering pakai ACP di proyek-proyek kami karena lebih praktis dan budget-friendly untuk kebanyakan klien. Tapi beberapa kali juga handle GRC, terutama untuk gedung yang butuh tampilan lebih klasik atau ornamen rumit. Saya coba jelaskan perbedaan keduanya sesederhana mungkin berdasarkan pengalaman lapangan, supaya Anda bisa ambil keputusan yang tepat untuk proyek Anda.

Mengenal ACP dan GRC

Sebelum masuk ke perbandingan detail, kita pahami dulu apa itu ACP dan GRC.

ACP (Panel Komposit Aluminium)

ACP adalah singkatan dari Aluminium Composite Panel—panel komposit yang terdiri dari dua lembar aluminium tipis dengan bahan inti di tengahnya. Bayangkan seperti sandwich: roti (aluminium) di luar, isi (bahan inti) di tengah.

Komposisi ACP:

  • Lembar aluminium luar: 0.3-0.5mm per sisi (total kedua sisi 0.6-1.0mm)
  • Bahan inti: bisa polyethylene (plastik), fire retardant, atau mineral
  • Total ketebalan panel: paling umum 3mm atau 4mm
  • Berat: sangat ringan, sekitar 5-7 kg per meter persegi

Panel ACP dijual dalam bentuk lembaran flat, tapi bisa di-bending (ditekuk) untuk membuat bentuk lengkung atau sudut. Permukaan bisa macam-macam: solid color, metallic, brush (kayak stainless), atau bahkan mirror (cermin).

GRC (Beton Diperkuat Serat Kaca)

GRC adalah singkatan dari Glass Reinforced Concrete—beton yang diperkuat dengan serat kaca. Konsepnya mirip dengan beton bertulang, cuma tulangan baja diganti dengan serat kaca yang jauh lebih halus dan tersebar merata di seluruh material.

Komposisi GRC:

  • Semen portland
  • Pasir halus
  • Serat kaca tahan alkali (alkali resistant glass fiber)
  • Air dan aditif
  • Ketebalan panel: biasanya 12-15mm untuk cladding standar, bisa sampai 25mm untuk elemen yang lebih struktural
  • Berat: jauh lebih berat, sekitar 25-35 kg per meter persegi (4-5 kali lipat dari ACP)

GRC dibuat dengan metode casting (dicetak) di workshop. Ini memungkinkan pembuatan bentuk yang sangat kompleks—ornamen relief, corbel, molding, bahkan replika detail arsitektur klasik yang rumit.

Kedua material ini sangat umum dipakai untuk sistem fasad gedung modern di Indonesia, tapi dengan fungsi dan karakteristik yang berbeda.

Foto perbandingan side-by-side—ACP panel (permukaan flat mengkilap, tampilan modern) vs GRC panel (tekstur beton, ada ornamen 3D relief)

Baca: Apa Itu Facade Engineering? Konsep dan Ruang Lingkup

Perbedaan Karakteristik Material

Mari kita breakdown perbedaan mendasar antara ACP dan GRC dari berbagai aspek. Saya buat tabel dulu untuk gambaran umum, baru kita bahas satu per satu secara detail.

AspekACPGRC
BeratSangat ringan (5-7 kg/m²)Berat (25-35 kg/m²)
Kekuatan benturanLemah, mudah penyokSangat kuat, tahan benturan
Ketahanan apiTergantung inti (rendah sampai baik)Sangat baik (tidak mudah terbakar)
PenampilanHalus, mengkilap, banyak pilihan warnaTekstur beton, bisa ornamen kompleks
BentukLembaran flat, bisa ditekuk sederhanaBisa dicetak bentuk apapun
Umur pakai15-20 tahun (coating)25-30 tahun (material)
PerawatanRelatif mudahLebih demanding
Harga material + pasangRp 250-750 ribu/m²Rp 600-1.500 ribu/m²

1. Berat Material dan Dampaknya ke Struktur

Ini perbedaan paling mencolok dan punya dampak besar ke desain struktur.

ACP sangat ringan dengan berat cuma 5-7 kg per meter persegi. Ini keuntungan besar untuk:

  • Gedung tinggi: Setiap kilogram tambahan di fasad akan multiply dengan jumlah lantai. Gedung 20 lantai dengan ACP bisa hemat beban struktur sampai ratusan ton dibanding pakai GRC. Ini berdampak ke desain pondasi, kolom, dan balok.
  • Renovasi gedung lama: Kalau Anda mau ganti fasad gedung existing, struktur lama biasanya tidak di-design untuk beban tambahan besar. ACP bisa dipasang tanpa perlu memperkuat struktur existing. GRC? Kemungkinan besar harus survey struktur dulu dan mungkin butuh perkuatan.
  • Biaya rangka lebih murah: Karena ringan, rangka penahan ACP bisa pakai hollow aluminium yang juga ringan. Tidak perlu profil baja berat. Ini saving biaya cukup signifikan.

GRC jauh lebih berat dengan 25-35 kg per meter persegi. Ini perlu pertimbangan serius:

  • Rangka harus baja: Tidak bisa pakai aluminium, harus profil baja dengan ukuran yang cukup untuk menahan beban. Biaya rangka bisa 2-3 kali lipat dari rangka ACP.
  • Beban struktur bertambah: Untuk gedung baru, engineer harus hitung tambahan beban GRC ini ke dalam desain struktur. Ini bisa nambah ukuran kolom, balok, dan pondasi.
  • Butuh alat berat untuk instalasi: Panel GRC tidak bisa diangkat manual, butuh crane atau hoist. Ini tambahan biaya mobilisasi dan operasional alat.

Link untuk konsultasi perhitungan struktur penahan kalau Anda tidak yakin struktur existing cukup kuat untuk material tertentu.

Baca: Audit Struktur Existing dan Penilaian Kekuatan Bangunan

2. Kekuatan Mekanis terhadap Benturan

ACP relatif lemah terhadap benturan keras. Lembar aluminium tipis (cuma 0.3-0.5mm) bisa penyok kalau kena impact cukup keras—misalnya kena bola, kena tangga saat maintenance, atau kecelakaan kecil saat instalasi.

Kelemahan ini bukan masalah besar kalau:

  • ACP dipasang di area yang tidak terjangkau (lantai atas)
  • Bukan area publik yang ramai atau rawan vandalisme
  • Ada proteksi fisik di area lower level

Tapi untuk area ground floor di mall, ruko, atau gedung publik? Saya tidak rekomendasikan ACP kecuali ada barrier atau proteksi. Sudah terlalu sering lihat fasad ACP ground floor yang penyok-penyok karena kena troli belanja, motor parkir, atau vandalisme.

Satu keuntungan ACP: karena bisa di-bending, material ini punya fleksibilitas. Tidak gampang retak seperti material kaku.

GRC sangat kuat terhadap benturan. Beton diperkuat serat kaca ini tahan impact yang cukup keras. Cocok banget untuk:

  • Area ground floor
  • Parkiran atau loading dock
  • Area publik dengan lalu lintas tinggi
  • Spot yang rawan kena benturan (dekat pintu, dekat area bermain anak, dll)

Kelemahannya: kalau GRC sudah retak (misalnya karena impact ekstrim atau kesalahan instalasi), retakan ini susah diperbaiki. Biasanya harus ganti panel, dan itu mahal karena panel berat, butuh crane, plus mungkin harus order custom kalau sudah discontinued.

3. Ketahanan terhadap Api

Ini aspek yang sangat penting dan sering diabaikan waktu pilih material. Ketahanan api bukan cuma soal teknis, tapi soal keselamatan nyawa.

ACP punya tiga kategori berdasarkan bahan inti:

a) ACP inti PE (Polyethylene)
Ini yang paling murah dan sayangnya masih paling banyak dipakai di Indonesia. Bahan inti-nya plastik polyethylene yang mudah terbakar. Kalau kena api:

  • Terbakar cepat dan menyebarkan api ke panel lain
  • Mengeluarkan asap hitam tebal yang sangat beracun
  • Bisa bikin api naik vertikal dengan cepat antar lantai

Ada beberapa kasus kebakaran gedung tinggi di luar negeri (Inggris, Dubai, dll) yang api menyebar sangat cepat gara-gara pakai ACP PE core. Di Indonesia sendiri sudah ada beberapa kejadian, walau tidak sebesar yang di luar.

Saran saya: jangan pakai ACP PE core untuk:

  • Gedung tinggi (lebih dari 8 lantai)
  • Gedung publik (mall, hotel, rumah sakit, sekolah)
  • Gedung dengan okupansi banyak orang
  • Area dengan risiko kebakaran tinggi

PE core masih acceptable untuk:

  • Ruko 2-3 lantai dengan fungsi non-publik
  • Signage atau kanopi outdoor (bukan gedung utama)
  • Budget sangat terbatas dan gedung low-rise

b) ACP inti FR (Fire Retardant)
Bahan inti ditambah fire retardant chemical yang membuat lebih lambat terbakar. Lebih baik dari PE, tapi masih bukan fire-proof. Kalau kena api cukup lama, tetap bisa terbakar. Harga sekitar 30-40% lebih mahal dari PE core.

c) ACP inti Mineral (A2 rating)
Bahan inti-nya mineral yang non-combustible (tidak bisa terbakar). Ini adalah ACP paling aman untuk fire safety. Sudah comply dengan standar ketat di Eropa dan negara maju. Harga 2-3 kali lipat dari PE core.

Untuk gedung yang harus comply dengan peraturan keselamatan kebakaran ketat, wajib pakai ACP mineral core atau pertimbangkan GRC.

GRC secara natural sangat tahan api:

  • Komponen utama beton dan serat kaca—keduanya non-combustible
  • Tidak menyebarkan api
  • Tidak mengeluarkan asap beracun
  • Tahan panas tinggi tanpa deformasi struktural
  • Otomatis comply dengan peraturan kebakaran gedung tinggi

Kalau saya desain gedung publik atau high-rise, GRC selalu jadi pertimbangan utama dari sisi fire safety, atau minimal ACP mineral core kalau budget tidak cukup untuk GRC.

4. Penampilan dan Estetika

Material fasad bukan cuma soal fungsi, tapi juga penampilan. Dan di sini ACP dengan GRC punya karakter visual yang sangat berbeda.

ACP punya tampilan modern dan sleek:

  • Permukaan sangat halus dan rata—smooth finish yang mengkilap
  • Banyak pilihan warna: solid (merah, biru, hitam, putih, dll), metallic (silver, gold, copper), brush (kayak stainless steel), bahkan mirror finish
  • Tampilan industrial dan minimalis—cocok untuk gedung perkantoran modern, showroom, gedung komersial
  • Bisa di-bending untuk bentuk lengkung atau radius (minimum radius tergantung ketebalan—typical bisa radius 300-500mm)
  • Tidak bisa ornamen detail—cuma bisa bentuk geometris: kotak, lengkung, segitiga, dll. Tidak bisa relief atau ukiran.

GRC punya tampilan yang lebih tekstural dan bisa sangat detail:

  • Permukaan tekstur beton—bisa smooth concrete atau exposed aggregate (batu tampak)
  • Bisa dicetak dengan ornamen sangat detail: relief bunga, corbel, molding, bahkan replika detail arsitektur klasik Eropa yang rumit
  • Tampilan lebih klasik, monumental, atau natural—cocok untuk hotel mewah, museum, gedung pemerintah, bangunan dengan konsep klasik
  • Bisa dibuat menyerupai batu alam (limestone, travertine, dll) dengan biaya jauh lebih murah dari batu asli
  • Finishing bisa dicat atau dikasih stain untuk berbagai warna

Pemilihan berdasarkan konsep arsitektur:

  • Kalau gedung Anda konsep modern minimalis, industrial, sleek → ACP jauh lebih cocok
  • Kalau gedung Anda konsep klasik, monumental, butuh ornamen detail → GRC pilihan yang tepat
  • Kalau mau tampilan batu alam tapi budget tidak sampai untuk batu asli → GRC bisa dibuat menyerupai dengan sangat convincing
Foto aplikasi—kiri: gedung modern dengan ACP silver metallic (tampilan sleek). Kanan: gedung klasik dengan GRC ornamen (tampilan detail corbel dan molding)

5. Daya Tahan dan Perawatan Jangka Panjang

ACP:

Umur coating ACP berkisar 10-15 tahun untuk coating standar (polyester). Kalau pakai PVDF coating (premium), bisa 20-25 tahun. Tapi ini tergantung:

  • Paparan UV langsung (facing south atau west lebih cepat fade)
  • Polusi udara (kota besar lebih cepat kotor dan fade)
  • Coastal area (salt spray bisa korosif ke aluminium)

Seiring waktu, warna ACP bisa fade terutama warna gelap atau metallic yang kena UV terus-menerus. Sambungan sealant antar panel juga perlu maintenance tiap 5-7 tahun—sealant bisa mengeras atau lepas, bikin celah untuk air masuk.

Kalau panel ACP penyok atau rusak, harus ganti panel—tidak bisa repair. Tapi karena ringan dan modular, ganti panel relatif mudah. Bongkar panel yang rusak, pasang panel baru.

Perawatan ACP:

  • Cuci berkala (tiap 3-6 bulan) dengan air tekanan rendah + sabun mild
  • Hindari bahan kimia keras atau abrasive yang bisa merusak coating
  • Check dan re-seal joint yang mulai crack
  • Relatif mudah dan murah

GRC:

Umur material GRC 25-30 tahun atau lebih kalau dipelihara dengan baik. Material berbasis beton memang lebih durable. Warna GRC juga tidak fade karena warna masuk ke dalam material atau melalui cat yang thick—bukan coating tipis seperti ACP.

Tapi GRC bisa muncul hairline crack (retak rambut) seiring waktu. Ini natural untuk material berbasis semen karena thermal expansion-contraction dan sedikit movement struktur. Selama cracknya hairline (di bawah 0.3mm), tidak masalah struktural—cuma estetika. Tapi kalau crack lebih besar, perlu investigate penyebabnya (movement struktur, anchor fixing issue, dll).

GRC perlu re-seal atau re-paint tiap 5-10 tahun tergantung finishing dan paparan cuaca. Kalau GRC exposed tanpa coating, bisa muncul noda water stain atau efflorescence (garam putih keluar dari beton).

Perawatan GRC:

  • Pembersihan lebih demanding karena tekstur tidak smooth—kotoran bisa nempel di pori-pori
  • Butuh pressure washing dengan detergent khusus
  • Re-seal atau re-paint berkala untuk maintain appearance
  • Access untuk maintenance juga lebih sulit karena panel berat—butuh gondola atau scaffolding proper

Kalau panel GRC retak parah atau rusak, replacement sangat mahal dan sulit:

  • Panel berat, butuh crane
  • Kalau ornamen custom, harus re-cast dengan mold (kalau mold masih ada)
  • Bongkar pasang butuh skill khusus

6. Instalasi dan Waktu Pengerjaan

ACP:

Instalasi ACP relatif cepat dan straightforward:

  • Panel ringan, bisa handling manual (1-2 orang bisa angkat panel 1 lembar)
  • Tidak butuh alat berat
  • Cutting dan fabrikasi bisa dilakukan di lokasi proyek (walau lebih bagus di workshop)
  • Adjustable—kalau ada kesalahan ukuran kecil, masih bisa adjust di lapangan
  • Kecepatan pemasangan: typical 20-30 meter persegi per hari per team (2-3 orang)

Link ke workshop kami untuk fabrikasi dan instalasi panel dengan quality control yang proper.

GRC:

Instalasi GRC lebih lambat dan butuh planning detail:

  • Panel berat, butuh crane atau hoist untuk lifting (panel besar bisa 100-200 kg)
  • Panel harus pre-cast di workshop—tidak bisa cutting atau adjust di site
  • Kalau ada kesalahan ukuran, panel tidak muat, harus order ulang (costly delay)
  • Fixing ke rangka butuh precision—anchor harus pas dan kuat
  • Kecepatan pemasangan: typical 10-15 meter persegi per hari per team

Karena lebih complex, instalasi GRC butuh skill khusus—tidak semua tukang bisa handle. Perlu training dan pengalaman khusus untuk lifting, positioning, dan fixing panel berat dengan aman.

Baca: Struktur Beton: Prinsip dan Elemen Utama

Kapan Pakai ACP, Kapan Pakai GRC?

Setelah paham perbedaan karakteristik, pertanyaan berikutnya: untuk proyek saya, pakai yang mana?

Pakai ACP kalau:

1. Gedung Perkantoran Modern atau Komersial

Gedung kantor, showroom, retail store yang butuh tampilan sleek dan professional—ACP adalah pilihan paling natural. Budget lebih terbatas, timeline cepat, dan tampilan modern: semua aspek ini mendukung ACP.

2. Ruko dan Bangunan Komersial Menengah

Ruko 2-4 lantai, small office building, warehouse office—ACP paling cost-effective. Banyak variasi warna juga berguna untuk branding (misalnya warna corporate matching dengan logo perusahaan).

3. Renovasi Fasad Existing

Kalau Anda mau ganti fasad gedung lama tanpa memperkuat struktur, ACP adalah pilihan terbaik karena ringan. GRC akan overload struktur existing yang mungkin tidak di-design untuk beban tambahan.

4. Signage, Kanopi, dan Elemen Non-Struktural

ACP bagus untuk signage 3D (huruf timbul), kanopi entrance, accent wall, atau elemen dekoratif yang tidak perlu kekuatan benturan tinggi.

5. Interior Accent Wall

ACP juga bisa untuk aplikasi interior seperti lobby, koridor, elevator hall. Maintenance mudah (bisa wipe clean), banyak pilihan warna, dan tidak ada issue fire safety untuk interior (karena ada sprinkler dan fire system).

Hindari ACP untuk:

  • Area rawan vandalisme atau benturan: Ground floor area ramai, parkiran, loading dock—ACP mudah penyok
  • Gedung dengan regulasi fire safety ketat: High-rise residential, hospital, school, hotel—kecuali pakai ACP mineral core (mahal)
  • Area coastal ekstrim atau industrial berat: Salt spray atau chemical exposure bisa korosif—walau ada coating, aluminium tetap bisa corrode over time

Pakai GRC kalau:

1. Gedung dengan Desain Klasik atau Ornamen

Hotel mewah, museum, gedung pemerintah, atau building dengan konsep arsitektur klasik (colonial, neo-classical, art deco)—GRC bisa buat ornamen detail yang tidak mungkin dengan ACP.

2. Butuh Elemen Relief atau 3D

Logo perusahaan yang timbul dengan detail rumit, emblem, replika arsitektur heritage, dekorasi sculptural—GRC adalah material yang tepat.

3. Area High-Traffic atau Rawan Impact

Ground floor mall, area parkir, public space dengan lalu lintas tinggi—GRC tahan benturan dan tidak mudah rusak.

4. Proyek dengan Fire Code Ketat

High-rise residential, hospital, school—GRC otomatis comply dengan fire safety requirement tanpa perlu upgrade ke grade premium seperti ACP mineral core.

5. Elemen Semi-Struktural

Sunscreen, louver, balustrade, planter box—GRC bisa fungsi struktural sambil estetika. Material cukup kuat untuk menahan beban sendiri plus beban lain (angin, orang bersandar, dll).

Kombinasi ACP dan GRC

Beberapa proyek mengkombinasikan keduanya untuk optimize cost dan performance:

  • GRC untuk ground floor sampai level 2-3: Area lower level butuh durability dan impact resistance. GRC cocok. Juga bikin kesan megah di entrance.
  • ACP untuk level 4 ke atas: Area upper level tidak rawan benturan, ACP lebih ringan (reduce beban struktur), dan lebih cepat instalasi.
  • GRC untuk ornamen accent, ACP untuk main cladding: Misalnya frame window, cornice, atau pilaster pakai GRC untuk detail. Main wall pakai ACP untuk efficiency.

Contoh real: Hotel 12 lantai—ground floor sampai level 3 pakai GRC dengan ornamen klasik untuk bikin statement di entrance (kesan mewah dan welcoming). Level 4-12 pakai ACP mineral core (fire safety compliance + reduce weight + speed up construction).

Baca: Komponen Utama Sistem Curtain Wall

Perbandingan Biaya: First Cost vs Total Ownership

Harga adalah pertimbangan penting, tapi jangan cuma lihat harga awal—harus hitung total cost of ownership.

Range Harga Material + Instalasi (per meter persegi):

ACP:

  • Inti PE merk lokal: Rp 250,000 – 350,000
  • Inti PE merk import: Rp 350,000 – 500,000
  • Inti FR (fire retardant): Rp 400,000 – 550,000
  • Inti Mineral (A2 rating): Rp 550,000 – 750,000

GRC:

  • Panel flat standar: Rp 600,000 – 850,000
  • Panel dengan tekstur: Rp 750,000 – 1,000,000
  • Panel dengan ornamen kompleks: Rp 1,000,000 – 1,500,000
  • Custom mold untuk bentuk khusus: tambah Rp 5-15 juta untuk biaya mold (one-time cost)

Catatan penting:

  • Harga di atas belum termasuk rangka—rangka GRC lebih mahal 50-100% dari rangka ACP karena harus baja
  • Harga sangat bervariasi tergantung: ketebalan, brand, finishing, kompleksitas bentuk, volume proyek, lokasi proyek
  • Harga ini estimasi untuk Jawa (Jakarta-Surabaya). Area lain bisa beda 10-20% karena ongkos kirim dan availability material

Total Cost of Ownership (20 tahun):

Jangan cuma compare first cost. Mari kita hitung total cost dalam 20 tahun:

Contoh: Fasad 500 m² untuk gedung 5 lantai

Skenario ACP (PE core import):

  • First cost: 500 m² × Rp 450,000 = Rp 225 juta
  • Rangka aluminium: 500 m² × Rp 150,000 = Rp 75 juta
  • Re-coating tahun ke-12: 500 m² × Rp 60,000 = Rp 30 juta
  • Re-seal joint tahun ke-7 dan ke-14: 2 × (500 m² × Rp 25,000) = Rp 25 juta
  • Total 20 tahun: Rp 355 juta

Skenario GRC (panel flat standar):

  • First cost: 500 m² × Rp 700,000 = Rp 350 juta
  • Rangka baja: 500 m² × Rp 250,000 = Rp 125 juta
  • Re-paint tahun ke-10: 500 m² × Rp 100,000 = Rp 50 juta
  • Cleaning khusus tahun ke-8 dan ke-16: 2 × (500 m² × Rp 40,000) = Rp 40 juta
  • Total 20 tahun: Rp 565 juta

Dari contoh ini, GRC sekitar 60% lebih mahal dalam 20 tahun. Tapi GRC memberikan:

  • Fire safety jauh lebih baik
  • Durability lebih tinggi (material 25-30 tahun vs coating 10-15 tahun)
  • Impact resistance yang tidak bisa dibeli dengan ACP

Break-even point biasanya terjadi di tahun 15-20 kalau GRC dipelihara dengan baik vs ACP yang perlu re-coating dan re-seal berkala.

Kesimpulan biaya:

  • Budget ketat, timeline pendek, gedung low-medium rise non-publik: ACP adalah pilihan paling feasible
  • Long-term investment, high-rise atau publik, emphasis pada durability dan safety: GRC lebih justified walau mahal di awal

Tips Praktis Memilih dan Specify Material

Tips Memilih ACP yang Tepat:

1. Pastikan Grade Inti Sesuai Aplikasi

Ini paling penting untuk safety:

  • Gedung >8 lantai atau publik: Wajib FR atau Mineral core
  • Coastal area: Pilih aluminum alloy tahan korosi (biasanya 5005 atau 3105)
  • Budget project low-rise non-public: PE core masih acceptable

Jangan tergiur murah dan pakai PE core untuk gedung tinggi atau publik—ini gambling dengan keselamatan penghuni.

2. Check Ketebalan Lembar Aluminium

Spesifikasi standar: minimum 0.3mm per sisi (total skin 0.6mm untuk kedua sisi).

Untuk high-end project atau area dengan angin kencang: 0.4-0.5mm per sisi lebih bagus—lebih rigid, tidak gampang deformasi atau vibrate saat angin kencang.

Jangan terima di bawah 0.3mm—panel jadi terlalu tipis, mudah penyok, dan tidak durable. Sayangnya banyak supplier yang jual 0.21mm atau 0.25mm dengan harga murah. Ini bukan saving, ini jebakan—panel cepat rusak.

3. Verify Tipe Coating

Coating ada dua jenis utama:

  • Polyester coating: Standard, lebih murah, umur 10-12 tahun
  • PVDF coating (Polyvinylidene Fluoride): Premium, lebih durable, umur 20-25 tahun, warna tidak fade

Kalau specify PVDF, minta test report atau certificate of authenticity—banyak supplier claim PVDF tapi actual-nya polyester.

Ketebalan coating minimum 25 micron. Premium coating bisa 30-40 micron.

4. Brand Matters

Brand ternama ada quality control ketat:

Import (premium):

  • Alucobond (Germany) – market leader
  • Reynobond (Alcoa, USA)
  • Alpolic (Mitsubishi, Japan)

Lokal (good quality):

  • Alustar
  • Luminate
  • Goodsense
  • Seven

Hindari brand tidak jelas atau tanpa test certificate—banyak ACP China atau lokal tanpa brand yang quality-nya sangat questionable. Test report penting: fire rating, weather resistance, coating adhesion.

Tips Memilih GRC yang Tepat:

1. Specify Serat Kaca yang Benar

Ini krusial untuk durability GRC: serat kaca harus alkali-resistant (AR glass fiber).

Kenapa? Beton bersifat sangat alkali (pH tinggi). Serat kaca non-AR akan ter-attack oleh alkali dan degradasi dalam 5-10 tahun—GRC jadi rapuh dan mudah retak.

AR glass fiber mengandung zirconia yang resistant terhadap alkali. Specify: AR glass fiber content minimum 5% by weight.

Minta certificate dari supplier bahwa fiber yang dipakai adalah AR type, bukan E-glass biasa.

2. Ketebalan Sesuai Aplikasi

  • Cladding standar: 12-15mm cukup
  • Dengan ornamen dalam atau relief: 15-20mm (butuh material lebih tebal untuk detail tidak mudah patah)
  • Elemen semi-struktural (sunscreen, louver, dll): 20-25mm

Jangan over-specify thickness—makin tebal makin berat (beban struktur naik) dan makin mahal. Tapi juga jangan under-specify sampai panel terlalu tipis dan fragile.

3. Quality Control Proses Produksi

Quality GRC sangat tergantung pada proses mixing, casting, dan curing. Tidak seperti ACP yang factory-made dengan mesin otomatis, GRC banyak involve manual process.

Factory visit sebelum approve production:

  • Check apakah ada vibration table untuk compact material (eliminate air bubble)
  • Curing area harus climate controlled—suhu dan humidity optimal untuk curing beton (suhu 20-25°C, humidity >80%)
  • Spray atau casting equipment modern (bukan manual pakai ember dan sekop)
  • Clean workshop—kontaminasi bisa affect strength

Minta sample sebelum production. Test visual quality, check dimensi, check apakah ada void atau honeycomb.

4. Backing Frame dan Connection

GRC panel perlu backing frame di belakang—biasanya galvanis hollow atau angle steel. Frame ini di-embed saat casting untuk:

  • Lifting point saat instalasi
  • Fixing point ke rangka utama
  • Stiffen panel supaya tidak mudah crack dari handling

Check detail backing frame di shop drawing:

  • Material: galvanis untuk anti-rust
  • Size adequate untuk beban panel
  • Positioning fixing point sesuai dengan rangka support
Detail section GRC panel showing backing frame embed, anchor bolt position, sealant joint, dan connection ke rangka baja support

Common Mistakes yang Harus Dihindari

Untuk ACP:

1. Pakai PE Core untuk Gedung Tinggi

Ini kesalahan paling berbahaya. PE core mudah terbakar dan sudah terbukti menyebabkan kebakaran parah di berbagai negara. Jangan pakai PE core untuk:

  • Gedung tinggi
  • Gedung publik
  • Area dengan okupansi banyak orang

Saving 30-40% di material cost tidak worth risiko nyawa penghuni.

2. Rangka Spacing Terlalu Lebar

Rangka support ACP typical spacing 600-800mm (center to center). Kalau spacing terlalu lebar (misal 1,000mm atau 1,200mm):

  • Panel bisa melendut (deflection excessive)
  • Panel bisa vibrate atau noise saat angin kencang
  • Risk panel lepas dari fixing

Ikuti recommendation dari supplier ACP atau engineer untuk spacing rangka.

3. Sealant Joint Tanpa Backer Rod

Joint antar panel ACP harus di-seal dengan sealant silikon. Tapi kalau cuma inject sealant tanpa backer rod (foam rod yang di-insert dulu ke dalam joint):

  • Sealant tidak adhere proper ke kedua sisi panel
  • Three-side adhesion terjadi (sealant nempel ke dasar joint juga)—ini bikin sealant tidak bisa stretch-contract dengan baik
  • Sealant cepat failure (crack atau lepas)

Always use backer rod dengan diameter 25-30% lebih besar dari joint width. Baru inject sealant di atasnya.

Untuk GRC:

1. Skip Waterproofing Coating

GRC adalah material berbasis beton—porous dan bisa absorb air. Kalau tidak ada waterproofing coating atau sealer:

  • Water absorption bisa cause efflorescence (garam putih keluar)
  • Freeze-thaw damage (jarang di Indonesia tapi bisa issue di daerah dingin pegunungan)
  • Noda dan discoloration dari air hujan

Always apply waterproofing sealer atau paint system yang breathable tapi water-repellent. Kalau GRC exposed (tanpa cat), pakai penetrating sealer.

2. Panel Terlalu Besar Tanpa Expansion Joint

GRC mengalami thermal expansion-contraction seperti beton. Kalau panel terlalu besar (misal 3m × 2m atau lebih) tanpa expansion joint, thermal movement bisa cause:

  • Crack di tengah panel
  • Stress di anchor point
  • Deformasi

Specify maximum panel size sekitar 2m × 1.5m untuk cladding. Kalau butuh area lebih besar, bagi jadi beberapa panel dengan expansion joint di antara.

3. Anchor Fixing Under-Designed

Ini sangat berbahaya. GRC panel berat—panel 2m × 1.5m bisa 100-150 kg. Kalau anchor dan bracket tidak di-design proper:

  • Panel bisa jatuh (very dangerous untuk orang di bawah)
  • Crack di anchor point dari overload

Wajib calculate anchor load dengan benar:

  • Dead load panel (berat panel sendiri)
  • Wind load (pressure atau suction)
  • Safety factor minimum 3-4

Pakai anchor brand ternama (Hilti, Fischer) dengan load rating certified. Coordinate dengan structural engineer untuk verify anchor capacity dan struktur support.

Penutup

Baik ACP maupun GRC punya kelebihan masing-masing—tidak ada yang “lebih baik” secara absolut. Pilihan tergantung kebutuhan proyek Anda.

Rangkuman faktor keputusan:

  • Budget ketat & timeline cepat: ACP
  • Fire safety requirement strict: GRC, atau minimal ACP mineral core
  • Butuh ornamen kompleks atau detail 3D: GRC
  • Butuh banyak pilihan warna & tampilan modern: ACP
  • Struktur limited capacity (renovasi existing): ACP
  • Area rawan benturan (ground floor publik): GRC
  • Long-term durability lebih penting dari first cost: GRC

Yang paling penting: jangan sacrifice safety untuk saving cost. Material fasad bukan cuma soal estetika—ini adalah building envelope yang protect penghuni dari cuaca dan—dalam kasus terburuk—api. Invest di material yang tepat adalah invest untuk keselamatan jangka panjang.

Penjelasan saya ini berdasarkan pengalaman di lapangan menangani berbagai proyek fasad dan exterior dengan berbagai scale dan budget. Mungkin ada aspek lain yang belum saya cover tergantung kondisi spesifik proyek Anda—misalnya regulasi lokal, availability material di daerah tertentu, atau requirement khusus dari owner.

Monggo kalau mau diskusi lebih detail tentang material mana yang paling cocok untuk proyek Anda. Bisa hubungi via halaman kontak atau tinggalkan pertanyaan di kolom komentar. Saya senang bisa bantu dari pengalaman kami handle berbagai sistem fasad—mulai dari konsultasi material, perhitungan struktur, sampai fabrikasi dan instalasi.

Matur nuwun sampun mampir. Semoga artikel ini bermanfaat untuk planning proyek Anda.


Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

1. Apa perbedaan paling mendasar antara ACP dan GRC?

Perbedaan paling mendasar ada di komposisi material: ACP adalah panel komposit aluminium (metal) dengan inti plastik atau mineral, sangat ringan 5-7 kg/m². GRC adalah beton diperkuat serat kaca (cementitious), jauh lebih berat 25-35 kg/m². Dari perbedaan ini muncul karakteristik lain: ACP lebih fleksibel dan bisa ditekuk, GRC kaku tapi kuat benturan. ACP permukaan smooth mengkilap, GRC tekstur beton bisa ornamen detail. ACP ketahanan api tergantung inti (PE mudah terbakar, mineral aman), GRC secara natural tahan api.

2. Untuk gedung bertingkat tinggi, lebih aman pakai ACP atau GRC dari sisi kebakaran?

Untuk high-rise, fire safety adalah prioritas utama. GRC secara natural sangat aman karena berbasis beton yang non-combustible—tidak menyebarkan api dan tidak keluarkan asap beracun. Kalau harus pakai ACP untuk gedung tinggi, wajib specify ACP mineral core (A2 rating) yang juga non-combustible. Jangan pernah pakai ACP PE core atau bahkan FR core untuk gedung tinggi—risikonya terlalu besar. Sudah ada terlalu banyak kasus kebakaran gedung tinggi yang api spread cepat gara-gara ACP PE core. Di Indonesia ada regulasi fire safety untuk gedung tinggi, tapi enforcement kadang lemah—sebagai owner atau engineer, tanggung jawab kita untuk prioritaskan safety penghuni.

3. Berapa lama umur pakai ACP dan GRC? Mana yang lebih awet?

GRC lebih awet dari sisi material—umur 25-30 tahun atau lebih. Material berbasis beton memang tahan lama. ACP umurnya lebih ditentukan oleh coating—coating standar 10-15 tahun, PVDF coating 20-25 tahun. Setelah periode ini, ACP perlu re-coating atau replacement. Tapi perlu diingat: GRC juga butuh maintenance—re-seal atau re-paint tiap 5-10 tahun, dan bisa muncul hairline crack yang perlu monitor. Total cost of ownership dalam 20 tahun, GRC lebih mahal sekitar 50-60%, tapi memberikan durability dan fire safety yang lebih baik. Pilihan tergantung prioritas: first cost vs long-term value.

4. Bisakah ACP dan GRC dikombinasikan dalam satu proyek?

Sangat bisa dan ini sering dilakukan untuk optimize cost dan performance. Strategy umum: GRC untuk ground floor sampai level 2-3 (butuh impact resistance dan bikin kesan megah di entrance), ACP untuk upper floor (lebih ringan, reduce beban struktur, lebih cepat instalasi). Atau GRC untuk ornamen accent seperti frame window atau cornice, ACP untuk main wall cladding. Kombinasi ini memberikan balance antara aesthetic, performance, dan budget. Yang penting: pastikan koordinasi detail interface antara kedua material—sealant joint, flashing, dan drainage harus di-design proper supaya tidak ada kebocoran.

5. Apakah bisa mengganti fasad ACP existing dengan GRC tanpa perkuat struktur?

Sangat tidak disarankan. GRC 4-5 kali lebih berat dari ACP. Kalau struktur existing di-design untuk ACP (beban 5-7 kg/m²), tiba-tiba diganti GRC (25-35 kg/m²), struktur akan overload—kolom, balok, dan pondasi bisa tidak cukup capacity. Sebelum ganti material fasad yang jauh lebih berat, wajib survey struktur existing dan structural calculation untuk verify apakah struktur mampu. Kalau tidak mampu, harus perkuat struktur dulu—ini bisa sangat costly. Sebaliknya, ganti dari GRC ke ACP jauh lebih mudah karena reduce beban—malah meringankan struktur.